Quanzhou China, GISTRA GEYA– Kunjungan delegasi President University (PU), Bekasi Indonesia ke Quanzhou, China beragendakan penjajakan kerjasama dengan jajaran Huaqiao University serta penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding), yang diyakini bisa saling menguntungkan dan membutuhkan satu sama lain. Delegasi yang dipimpin rektor PU, Dr. Handa Abidin, beranggotakan Sigit Samsu (konsultan yayasan PU), Prof. Dr. Satyanegara, Han Xuya (chairman, China-India Business Center) serta Haryanto Aryodiguno (direktur, International Admission Office) mengikuti serangkaian acara. Rektor Huaqiao University, Prof. Wu Jianping, serta wakil rektornya, Prof. Prof. Huang Xiuyong serta jajarannya juga hadir pada acara pembahasan kerjasama kedua universitas. Usai pembahasan, kedua pihak menandatangani MoU dengan suasana akrab serta penuh persahabatan.
Rektor Wu Jianping mengatakan pada kata sambutannya, bahwa Huaqiao University terus menjaga hubungan persahabatan serta kerjasama dengan berbagai stratifikasi social masyarakat di Indonesia sejak zaman dahulu kala, serta aktif berbagai badan usaha pemerintah China untuk pembangunan perekonomian Indonesia. Sementara, PU sebagai salah satu universitas swasta ternama, ternyata jumlah mahasiswa kelas internasional terbesar dibanding universitas lain di Indonesia. harapannya, kedua pihak akan menindaklanjuti pertukaran di berbagai bidang studi sesuai dengan standar kompetensi, kegiatan riset ilmiah dan social kemasyarakatan, peningkatan keterkaitan antar anggota masyarakat, serta berkontribusi pada Belt and Road Initiative serta peningkatan tatanan kehidupan manusia secara global
Handa Abidin, pada kata sambutannya juga menggarisbawahi mengenai jumlah mahasiswa asing di PU, yang ternyata tertinggi dibanding universitas swasta lainnya di Indonesia. selain, peran PU nyata membangun kerjasama internasional dalam pendidikan. Kondisi sekarang, tercatat ada sekitar 400 mahasiswa asal China menimba ilmu di PU. Mereka juga berkesempatan memahami nilai kemajemukan Indonesia. Melalui kerjasama ini, PU berharap mahasiswa asal China semakin tertarik untuk menimba ilmu serta memahami bahkan menjadi bagian dari kemajemukan budaya Indonesia. “Selain, ada platform pembelajaran kebudayaan China untuk mahasiswa asal Indonesia,” kata Handa Abidin sebagaimana dikutip dari siaran pers yang dikirim Sigit Samsu kepada Redaksi.
Penandatanganan MoU, mencakup kerjasama dalam berbagai bidang, khususnya pertukaran mahasiswa fakultas kedokteran (FK). PU membuka FK tahun lalu, dan melalui kerjasama ini diharapkan bisa semakin intens menjembatani mahasiswa FK untuk berbagai kegiatan penelitian ilmiah. Kedua pihak juga berencana meluncurkan program pertukaran dual-degree dimana para mahasiswa FK dari PU dan Huaqiao university berkesempatan pada semua pembelajaran dan sumber daya. Handa Abidin meyakini bahwa program pertukaran mahasiswa bukan hanya sebatas pembebasan uang kuliah, tapi juga penyediaan fasilitas asrama mahasiswa. Selain, PU akan mengalokasikan dana beasiswa kepada mahasiswa yang mau melanjutkan program S2 (strata dua). Dari semua rencana kegiatan ini, tentunya bermuara pada peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan China.
Selama kunjungan delapan hari, Prof. Satyanegara juga sempat memberikan kuliah umum mengenai bedah saraf, terutama berbagai pengalamannya menganalisa penyakit dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Prof. Satyanegara memberikan kuliah umum selama dua hari, dengan materi yang berbeda. Pada hari pertama, ia memaparkan bedah saraf pada pembuluh darah otak dan lain sebagainya yang tingkat kesulitan relatif tinggi. Pada hari ke-2, Prof. Satyanegara juga memaparkan materi yang hampir sama, termasuk mengenai sub spesialis bedah saraf, dengan kompleksitasnya. Spesialisasi ahli bedah saraf, masing-masing berfokus pada berbagai bagian system saraf manusia. “Seperti bedah saraf tumor, ahli mendiagnosa dan menangani tumor pada sistem saraf, sampai pada upaya mengangkat sebagian atau seluruh tumor. Tentunya, tindakan ini butuh keterampilan dan pengalaman, serta teknologi canggih dan tim yang terorganisir dengan baik,” kata Prof. Satyanegara. (LIU)