JAKARTA, GISTARA GEYA, – Abadi Soesman seorang musisi yang kerap menjelajah antero Bumi. Namun karirnya tiadak seapik musikus papan atas karna musikalitasnya. Meski demikian ia tercatat sebagai keyboardis grup musik legendaris God Bless .
Pemain piano dari grup musik Eternals yang dilengkapi oleh Mira sebagai vokalis tidak pernah merasa puasa dalam pencapaian karirnya ” Manusia Sebenarnya tak memiliki batas kepuasan.” ungkapnya dikutip dari Majalah aktuil Edisi 252 terbitan 14/08/1978
Namun, Ia merasakan kepuasan tersendiri kala menggubah suata lagu yang diberikan kebebasan penuh oleh produser musik kala ia berkarir di Grup musik Eternal di kala itu.
Dalam wawancaranya bersama Majalah aktuil, Abadi Menjelaskan bahwa bermusik adalah memenuhi kebutuhan pendengar bukan hanya musikaltasnya. Meski, begitu ia tetap berkarya dengan gubahannya.
Meski, tanpa panyeliaan para pemodal atau “Cukong” Abadi tetap memikirkan bagaimana menciptakan karya agar dapat memanjakan telinga para pendengar, walau harus memasukan gaya bermusiknya dalam gubahan demi menambahkan rasa pada masyarakat.
Abadi menambahkan penilainyan terhadap album “Badai Pasti Berlalu” karya maestro itu merupakan kebangkitan musik Pop di Indonesia. Karya Eros Djarot tersebut merpukan titik tolak dimana para musisi mengembangkan genre pop kreatif.
Satisun Raduo Prambors memboyong basis Guruh Gypsy untuk menyanyikan lagu Lilin-Lilin Kecil yang dilantunkan oleh Crisye. Fenomena itu menggingatkan Abadi bahwa masyarakat menyambut baik keberadaan genre baru di Belantika Musik Indonesia era 70-an yaitu pop kreatif.
Sementara itu, di waktu yang sama Abadi mengungkapkan bahwa fenomena album “Badai Pasti Berlalu” kelak memunculkan gaya musik yang tak ubah dari musikalitasnya. Tanpa disadari lagu-lagu gubahan Abadi berhasil melampaui tembang musisi senior Titiek Puspa yang lolos sensor dari Cukong.
Abadi Soesman tetap berkarya memegang teguh pendiriannya terus menggubah lagi yang memiliki corak tersendiri yakni pop kreatif dimasanya seperti yang sempat mengalun di telinga para pendengar radio di masanya dalam Lagu “Indah Alam”. (ARD)